Senin, 19 September 2011

jangan dimasukin nanti hamil

daripada setiap hari sabtu dan minggu molor di kos-kosan karena gak ada kegiatan perkuliahan, Indra akhirnya mutusin ikut dalam club volly yang ada dikampusnya. Kebetulan semester ini ada rekrutmen anggota baru. Semester lalu Indra memang mutusin untuk full kegiatan akademik karena masa itu awal ia kuliah setelah lulus SMU. Saat itu ia tak ingin diganggu dengan segala tetek bengek selain kegiatan akademik. Ternyata setelah menjalaninya satu semester kegiatan akademik tidaklah berat-berat banget. Ia lebih banyak molor di kos seusai pulang kuliah plus sabtu minggu. Semula ia membayangkan kuliah di Fakultas Teknik Elektro ITB akan membuatnya sibuk dengan belajar dan belajar. Ternyata gak gitu-gitu amat rupanya. Meski tak terlalu ngotot belajar, semester ini nilai akademik Indra ternyata bagus-bagus semua. Sangat banyak kegiatan eskul di kampusnya ini. Mulai dari masak memasak sampai panjat tebing. Lengkap banget. Karena memang sejak SMU doyan volly akhirnya Indra mutusin gabung di club volly aja. Satu semester gak latihan volly membuat bodynya yang kekar dirasakannya sedikit berlemak. Itu perasaan Indra doang. Coba tanyain si Dini, selingkuhannya di kampus, ia tidak merasa tubuh Indra berlemak. Ia awam soal otot-otot lelaki. Tubuh Indra menurutnya sexy abis. Tinggi, kekar, dan proporsional. Sangat menggairahkan bagi cewek-cewek di kampus. Apalagi kalo Indra cuman pake celana renang doang saat di kolam renang, semua cewek bakalan melototin tubuh Indra yang memang oke banget. Ramping tapi penuh otot. Tapi itulah, mungkin karena ia olahragawan maka Indra lebih tahu kalau di tubuhnya yang kekar itu mulai nongol lemak-lemak. Jadi jangan protes kalau ia tetap mutusin untuk ikutan club volly. Saat nelpon ke Reny kekasihnya di Palembang sang cewek setuju-setuju aja Indra ikutan club volly. “Yang penting jangan terlalu capek sayang, nanti gak bisa belajar dengan baik lagi,” pesan mesra Reny dari seberang pulau. Sebagai informasi Indra ini asal Palembang. Turunan Arab dan Melayu Palembang. Bayangin aja gimana gantengnya tuh anak. Lulus SMU ia kuliah di Bandung. Sementara Reny sang pacar tinggal di Palembang karena gak lulus SPMB. Akhirnya tuh cewek harus kuliah di perguruan tinggi swasta disana. Niatnya tahun depan ikutan SPMB lagi supaya bisa lulus dan sama-sama kuliah di Bandung. Jadi bisa deket-deketan dengan Indra. Reny memang bertekad kuat agar lulus SPMB tahun depan. Selain pengen kuliah di PTN favorit juga supaya bisa mantau kelakuan si Indra. Reny soalnya tau banget kelakuan binal cowoknya yang ganteng ini. Gila sex. Kalo gak ngentot seminggu aja palanya bisa puyeng. Libidonya gila-gilaan. Untung aja Reny bisa nandingin gila sexnya Indra. Makanya Indra sampe sekarang masih betah pacaran dengan dia. Sebelum dengan Reny Indra udah berkali-kali gonta-ganti pacar. Reny itu awalnya selingkuhannya juga. Tapi karena ngesex dengan Reny bisa memuaskan Indra maka akhirnya Indra mutusin untuk jadian aja dengan Reny. Meninggakan pacar-pacarnya yang laen. Awal kuliah, Indra nyoba untuk setia dengan Reny. Gak mau pacaran dan cari cewek lain. Tapi mana tahan dia. Baru seminggu kuliah kepalanya udah puyeng. Apalagi kepala bawahnya. Hehehe. Begitu kenal Dini, mahasiswi fakultas ekonomi Unpad yang mojang Bandung asli itu, niatnya untuk setia pada Reny terlupakan sudah. Dini kini jadi pasangan tetap ngesexnya. Tiada hari dilewatinnya tanpa nyemprotin memek Dini pake spermanya. Meski tak sehebat Reny, namun Dini cukup bisa memuaskan kebutuhan ngesexnya Indra. Dan karena itu Indra masih tetap jadian dengan Reny. Ia masih pengen kalo balik ke Palembang bisa ngesex sepuasnya dengan ceweknya sejak SMU itu. Hari Sabtu pagi Indra udah nongkrong di gelanggang olah raga. Biasanya Sabtu dan Minggu pagi, gelanggang oleh raga ini rame dengan mahasiswa yang berolah raga. Gelanggang ini bisa digunakan untuk volly, basket dan juga badminton. Tapi nampaknya Sabtu ini gelanggang khusus dicarter oleh club volly untuk ngadain rekrutmen. Ada dua puluh laki-laki bertubuh tinggi atletis menggenakan pakaian olah raga yang seragam warnanya. Kaos lengan pendek warna biru muda dan celana pendek warna biru tua. Mereka adalah anggota inti club volly yang akan merekrut sepuluh mahasiswa baru termasuk Indra. Dengan stelan kaos lengan pendek, celana pendek dan sepatu olah raga yang berbeda-beda sepuluh calon anggota baru club volly sudah berbaris rapi. Siap mendengarkan arahan dari salah seorang anggota tim volly. Indra mengenal mahasiswa yang akan memberikan arahan itu. Adriansyah namanya, tepatnya Teuku Adriansyah. Mahasiswa teknik mesin semester V, asal Aceh. Adriansyah ini adalah ketua club volly. Anaknya bener-bener jago maen volly. Bila dia turun main membela kampus maka penonton akan bersorak-soari mendukungnya. Apalagi cewek-cewek. Selain menikmati permainannya yang oke, cewek-cewek ini juga sekaligus menikmati keindahan fisiknya. Wajahnya ganteng ditopang tubuh bertinggi berat 178 cm dan 65 kg. Siapa yang gak ngiler liatnya. “Hari ini kita mengadakan serangkaian tes. Bisa jadi kalian diterima seluruhnya. Namun bukan tidak mungkin satupun dari kalian tidak ada yang diterima. Kami hanya merekrut mereka-mereka yang benar-benar berkualitas, patuh pada aturan club, dan loyal melaksanakan perintah senior, demikian Adriansyah mengawali arahannya. Sepuluh calon anggota baru manggut-manggut. Adriansyah menyambung lagi kata-katanya,”Tes pertama adalah wawancara sekaligus tes kemampuan fisik. Disini para interviewer akan meneliti secara komprehensif kesungguhan dan motivasi kalian bergabung di club. Selain itu juga untuk mengorek informasi pengalaman yang kalian miliki di bidang olah raga khususnya volly. Karena itu seperti yang diumumkan dalam selebaran pengumuman, apabila kalian memiliki piagam, sertifikat penghargaan berkaitan dengan kegiatan olah raga silakan diperlihatkan pada interviewer nanti. Selain itu pewawancara juga akan mengetes fisik kalian. Silakan tunjukkan kemampuan fisik kalian yang prima. Tes wawancara dan fisik ini akan berakhir siang nanti menjelang makan siang. Setelah makan siang dan istirahat tes akan dilanjutkan dengan kemampuan bermain volly hingga selesai. Barangkali itu aja, ada yang pengen bertanya?” tanya Adriansyah. Semua diam. “Baiklah kalo gitu. Karena enggak ada yang ngajuin pertanyaan, maka kita mulai saja tes wawancara dan fisik. Masing-masing kalian akan dibawa oleh dua orang senior ke tempat wawancara yang tempatnya ditentukan oleh senior itu sendiri. Dimanapun tempatnya kalian tidak boleh protes. Meskipun di toilet sekalipun. Semua pertanyaan harus dijawab, semua perintah senior harus dilaksanakan dengan patuh dan tanpa protes. Ini perlu saya tekankan sekali lagi. Hasil tes wawancara dan fisik sangat menentukan lulus tidaknya kalian nanti,” Adriansyah mengakhiri arahannya. Ini sih namanya plonco dibungkus rekrutmen, batin Indra. Tapi dia cuek aja. Itung-itung latihan mental dan fisik, katanya dalam hati. Satu persatu calon peserta dibawa oleh dua orang senior ke tempat wawancara. Beneran, ada juga yang dibawa ke toilet wanita, hehehe. Akhirnya tiba giliran Indra. Yang membawanya adalah Adriansyah dan seorang senior berkulit hitam. Daniel Marantika namanya. Meski hitam orangnya ganteng banget. Hidungnya mancung, rahangnya kukuh dan tubuhnya kekar sekali. Daniel ini adalah kapten tim volly kampus saat ini. Indra merasa bangga karena yang mewawancarainya adalah sua orang yang sama-sama punya nama di club. Indra mengikuti langkah Adriansyah dan Daniel yang membawanya meninggalkan lapangan. Mereka membawanya ke salah satu ruang ganti yang banyak terdapat dipinggir lapangan. Ruang ganti itu tidak terlalu besar ukurannya. Hanya sekitar lebih kurang 3 x 3 meter persegi. Biasanya digunakan untuk tempat ganti pakaian empat sampai lima orang. Adriansyah dan Daniel mempersilakan Indra memasuki ruangan. Didalam sudah disediakan tiga kursi lipat disusun berhadapan. Indra dipersilakan duduk menghadap kedua senior itu. Sebelum memulai wawancara Indra melihat Daniel mengunci pintu ruang ganti dan mengantongi kunci itu di saku celana pendeknya. “Nama?” tanya Adriansyah mengawali wawancara. “Indra,” jawab Indra singkat. “Nama lengkap dong,” sela Daniel. “Muhammad Indra Ramadhan,” jawab Indra lagi. “Hmmm… nama yang bagus,” Adriansyah manggut-manggut, “Turunan Arab ya?” sambungnya. “Iya,” jawab Indra sambil mikir kok mesti nanya-nanya SARA sih. “Asal?” “Palembang,” “Disini tinggal sama siapa?” “Kos,” “Dimana?” “Dago,” Bergantian Adriansyah dan Daniel mengajukan pertanyaan. “Mmm udah punya cewek?” ini Daniel yang nanya. Lho, kok nanya yang beginian sih? Batin Indra. Aneh. Gak nyambung sama urusan volly. Tapi karena ingat arahan Adriansyah di lapangan tadi segala pertanyaan harus dijawab tanpa protes, maka dijawab juga pertanyaan itu oleh Indra. “Udah a’,” “Cool, dimana ceweknya sekarang?” “Di Palembang a’ dia gak lulus SPMB kemaren,” “Pacaran jarak jauh nih ceritanya. Punya labaan dong disini,” kata Adriansyah tersenyum nakal. Waduh, kok makin ngawur pertanyaannya. “Kok pertanyaannya gak soal volly a’,” tanya Indra. “Tadi kamu dengar arahan kan. Semua pertanyaan harus dijawab. Kita berdua bebas nanyain apa aja dan kamu gak boleh protes. Kalo gitu wawancaranya dihentikan aja, kamu boleh pulang,” ancam Daniel. Indra jadi serba salah. “Bukan gitu a’. Sorry kalo gitu. Apa tadi pertanyaannya? O iya labaan ya.. mmm…. ada sih. Namanya juga laki-laki a’, hehehe,” Indra nyengir grogi. Adriansyah dan daniel menatap tajam padanya. Indra makin grogi jadinya. “Pernah ngesex dong. Sering mungkin,” tanya Daniel dingin. “Ernggg… pernah a’. Aa’ berdua juga pernah kan, hehe,” Indra coba mencairkan suasana. Tapi percuma. “Yang ditanya kamu, bukan kami. Jadi gak usah bertanya soal kami,” Adriansyah berkata sama dinginnya seperti Daniel. “Pernah apa enggak?” “Pernah a’,” Indra makin grogi. “Sama dua-duanya?” tanya Daniel. “Iya,” “Berapa kali seminggu?” “Bisa empat sampai lima kali a’,” “Nafsu gede kamu ya,” “Gak juga a’,” “Kebanyakan ngesex gak loyo badan kamu? Bisa ganggu aktifitas olah raga dong,” tanya Adriansyah. Nah ini pertanyaan udah mulai ke masalahnya, fikir Indra. Semangat Indra menjawab. “Enggak lah a’. Malah semakin semangat. Yang penting stamina tetap dijaga. Saya selalu makan makanan yang bergizi dan minum susu,” “Hmmm… gitu ya,” “Iya a’,” “Gak takut pacar dan labaan kamu hamil?” tanya Daniel. Pertanyaannya kok balik-balik ke soal sex lagi sih? Fikir Indra. Tapi dia tak mau protes lagi. “Enggak a’. Kan ngesexnya tembak luar,” “Tembak luar?” “Ejakulasinya dilakukan diluar a’,” “Kurang jelas,” kata Daniel. Gimana sih? Udah segede ini masak mereka berdua gak ngerti, batin Indra. Percuma ganteng-ganteng dan body gede kayak gini kalo gak pernah ngesex. Masak gak ngerti tembak luar. Ada-ada aja. Kata Indra dalam hati. “Maksudnya gini a’, kalau sperma udah mau nyembur maka penis dicabut dari vagina. Terus spermanya disemburin di luar,” “Mmmm… disemburin dimana spermanya?” tanya Adriansyah cuek. Astaga! “Ya terserah a’. Bisa di perut. Di dada, di muka, terserah,” “Mmm gitu ya,” “Iya a’. Aa’ berdua belon pernah ya?” “Kok nanyain kita berdua?” “O iya a’. Lupa,” “Waktu dikeluarin di luar, penisnya dikocok-kocok sendiri dong,” “Ya iya dong a’,” “Sama dengan coli dong kalo gitu,” “Gak dong a’. Kalo ini kan sempat dimasukin vagina. Kalo coli kan enggak. Pake tangan doang,” “Kurangs eru ya Niel,” kata Adriansyah pada Daniel. “Iya. Tembak dalam baru asik,” “Aa’ berdua suka tembak dalam ya. Gak kuatir entar hamil?” “Ngapain takut hamil, kita tau caranya supaya gak hamil kok,” “Pake kondom ya a’,” “Buang-buang duit pake kondom,” “Hitung kalender ya,” “Kayak akuntan aja pake hitung-hitungan,” “Aa’ berdua ikutan vasektomi ya, maaf lo a’,” “Enak aja. Sialan lo,” Indra nyengir. “Abis gimana dong?” “Mau tau caranya?” “Boleh a’,” “Sabar ya. Entar pasti dikasih tau. Sekarang lanjutin wawancara aja dulu,” “Yaa…,” Indra mulai penasaran. Anak satu ini emang gila sex. Jadi kalo udah dipancing bicara soal itu maka dia akan semangat banget. “Penasaran ya,” “Iya..,” “Hehehe. Sabar ya Indra. Eh, ngomong-ngomong kamu punya penyakit dalam gak?” “Penyakit dalam? Gak ada a’. Saya sehat luar dalam,” “Korengan gak lo,” “Aa’ ada-ada aja,” “Bawa surat keterangan dokter?” “Gak ada a’. Kan gak ada disuruh bawa. Saya cuman bawa piagam dan sertifikat prestasi olah raga doang,” “Kamu harusnya kreatif dong. Meski gak disuruh, harusnya bawa. Soalnya kan itu bukti otentik mengenai keterangan kamu sehat atau enggak. Siapa tau diperlukan. Ternyata sekarang diperlukan kan?” kata Adriansyah. “Trus gimana dong a’?” “Kamu harus buktiin dong kalo kamu emang bener sehat luar dalam,” “Aa’ bisa liat kan tubuh saya gak ada koreng atau sejenisnya. Aa’ liat deh,” Indra mengangkat kaosnya ke atas menunjukkan perut dan dadanya yang putih bersih. Juga mengangkat celananya menunjukkan pahanya yang berotot itu benar-benar putih bersih. Gak ada bekas koreng. Adrianysah dan Daniel serius memandangi. “Itu kan luarnya doang, dalemnya gimana. Kita harus mastiin kamu itu emang sehat luar dalem. Kalo enggak kita gak bisa ngelulusin,” Daniel ngomong berwibawa. Indra mengkeret. Ia gak mau gak lulus seleksi hanya karena hal sepele doang. “Kalo gitu nanti saya urus surat keterangannya a’,” “Kita perlunya sekaranga,” “Saya benar-benar gak ngerti harus gimana a’. Sekarang terserah aa’ berdua aja gimana caranya,” “Kalo kita periksa mau? Gini-gini kita pernah jadi anggota PMR, jadi ngerti kesehatan tubuh manusia,” terang Adriansyah. “Terserah aa’ aja,” Indra pasrah. “Oke kalo gitu. Bawa steteskop Niel?” “Bawa dong. Ada di tas,” Daniel beringsut mengambil steteskop ditas ransel yang dibawanya. Indra bingung anak teknik kok bawa-bawa steteskop, kayak dokter aja, fikirnya. “Kenapa? Bingung ngelihat Daniel bawa ginian. Ini namanya mengantisipasi orang-orang kayak kamu,” terang Adriansyah menjawab tanda tanya Indra. Jawaban ini membuat Indra nyengir malu, Adriansyah ternyata bisa menebak fikirannya. “Sekarang buka baju biar diperiksa kesehatan kamu,” kata Adriansyah. “Berdiri disitu,” Indra berdiri lalu melepaskan kaosnya. Kemudian tegak menunggu. “Celananya juga,” kata Daniel. “Celana?” Indra meyakinkan. Ia memandang Daniel dan Adriansyah bergantian. “Iya celananya juga. Celana dalam juga. Sepatu ama kaos kaki enggak usah,” sahut Adriansyah. “Telanjang maksudnya?” “Yup,” “Buat apa?” “Siapa tau elo ambeyen,” “Enggaklah a’. Saya gak ambeyen,” “Makanya buka semua. Kalo emang gak ambeyen ngapain takut,” “Bukan takut.. tapi…,” “Malu? Ada-ada aja. Sama-sama cowok juga kok mesti malu. Atau kami perlu telanjang juga sekalian supaya kamu enggak malu?” “Enggak usah a’,” Indra segera melepaskan seluruh pakaiannya. Kini tubuhnya yang kekar telanjang bulat dihadapan Adriansyah dan Daniel. “Suka fitness ya Ndra?” tanya Daniel. “Rutin a’. Seminggu dua kali,” “Pantes. Renang juga ya?” “Iya,” “Otot lengan, dada, dan perut kamu terbentuk bagus jadinya,” kata Adriansyah. Dengan santai ia meremas otot-otot Indra, membuat cowok ini merasa risih. Adriansyah menempelkan steteskop di dada bidang Indra. Ia mendengarkan dengan serius degup jantung pemuda itu. Berdiri telanjang dihadapan dua cowok seperti itu membuat Indra deg-degan. Jantungnya berdegup kencang. “Kok degupannya keras banget Ndra. Jangan gugup dong,” kata Adriansyah. Indra nyengir. Stetoskop berpindah-pindah tempat. Dari dada kiri ke kanan. Ke perut dan sebagainya. Indra bingung kok meriksanya begitu sih? Fikirnya. Adriansyah mengehentikan pemeriksaan steteskopnya. “Ada yang perlu diperiksa lagi Niel?” tanyanya. Daniel mengangguk, ia berdiri di belakang Indra. Jemarinya mengelus punggung pemuda itu. Kemudian turun kebawah ke pinggang dan buah pantat Indra. “Kamu bungkuk deh. Nungging,” kata Daniel. “Untuk apa a’?” “Saya mau mastiin kamu ambeyen atau enggak?” jawab Daniel. Indra akhirnya nurut. Ia membungkukkan badan dan melebarkan pahanya. Daniel jongkok di belakang Indra. Membuka buah pantat Indra dengan santai. Indra menunggu apa yang dilakukan Daniel. Ia jadi inget ketika ikutan tes masuk SMU Taruna Nusantara. Dulu diapun diginiin untuk tes pemeriksaan ambeyen. Jemari Daniel tiba-tiba menyusup ke celah pantatnya. Indra memejamkan matanya. Rasanya perih. “Seret Ndri, tolong ambilin baby oil itu deh,” kata Daniel. Akhirnya Indra tahu apa guna baby oil yang sejak tadi diletakkan dekat tempat duduk Adriansyah dan Daniel. Adriansyah segera melemparkan botol baby oil itu pada Daniel. Cowok Ambon itu segera melumuri jari tengahnya dengan cairan baby oil itu. Kemudian jari itu dimasukkannya lagi ke celah lobang pantat Indra. Jari itu menusuk ke dalam. Indra membiarkan saja. Namun apa yang dilakukan Daniel kemudian membuat Indra terhenyak. Jari tengah Daniel bergerak-gerak, mengaduk-aduk lobang pantatnya. Indra merinding. Rasanya geli-geli enak. Jari tengah Daniel bergerak maju mundur di celah lobang pantat Indra. Menimbulkan gesekan yang membuat Indra keenakan. Ia memejamkan matanya. Bibir bawahnya digigitnya. “Kenapa Ndra? Enak ya?” tiba-tiba Adriansyah sudah berbisik di telinganya. Bibir cowok ganteng itu dirasakannya menyentuh daun telinganya. “He eh,” Indra menyahut lirih. Wajahnya merah. Ia ketangkap basah menikmati sodokan jari Daniel itu. “Pemeriksaannya udah selesai, kamu bebas ambeyen Ndra. Jarinya mau dikeluarin atau tetap didalam aja?” tanya Daniel dari belakang. “Biarin didalem aja a’,” kata Indra pelan. “Ya udah kalo gitu,” Daniel melanjutkan sodokan jarinya. Keluar masuk lobang pantat Indra. Sensasi yang ditimbulkan membuat Indra terangsang. Tanpa disadarinya kontolnya membesar. “Kontol kamu kok ngaceng sih Ndra?” tanya Adriansyah. Tiba-tiba tangannya sudah menggenggam kontol Indra yang gemuk dan panjang. Tangan itu licin. Rupanya Adriansyah melumuri tangannya dengan baby oil. Perlahan tangan Adriansyah meremas-remas lembut batang kontol Indra. “Ahhhhh…,” tanpa sadar Indra mengerang. Tangan Adriansyah semakin nakal. Kini mulai bergerak seperti mengocok dengan lembut. “Enak Ndra?” tanya Adriansyah lagi. “He eh,” “Mau yang lebih enak Ndra?” tanya Daniel. “Mau a’. Mau,” seminggu tak ngentot dengan Dini membuat Indra tak bisa menguasai nafsunya. Ia membiarkan saja dua laki-laki tampan dan jantan itu mengerjai daerah sekitar selangkangannya. Mulut Daniel dirasakan Indra menyentuh kulit buah pantatnya. Sesaat kemudian dari mulut itu keluar lidah Daniel. Lidah itu mulai melakukan jilatan-jilatan di sekitar pantat Indra. “Ahhhhh…,” Indra kembali mengerang. Matanya dipejamkannnya kuat-kuat. Tanpa disadarinya Adriansyah rupanya sudah jongkok dihadapannya. Tiba-tiba Indra merasakan kepala kontolnya dikulum. Seperti kuluman Reny atau Dini. Indra menggeliat. Rasanya kepalanya ringan. Tubuhnya seperti melayang. Ia sangat keenakan merasakan kuluman dan jilatan di daerah vitalnya. Lidah Daniel menyapu celah pantat, hingga buah pelernya yang menggantung. Sementara mulut Adriansyah mengulum kepala kontolnya sambil menyapukan lidahnya di dalam mulut. Indra mengerang. Sekian lama Indra terbius oleh permainan mulut kedua laki-laki gagah itu. Ia terhanyut. Ia lupa bahwa yang melakukan itu adalah laki-laki sama sepertinya. Namun pada satu waktu tertentu ia tersadar. Akal sehat menguasainya kembali. “Astaga! Ini gila!” seru Indra tiba-tiba. Ia melepaskan dirinya dari kedua laki-laki itu. Ia menjauh dari keduanya. “Kalian….. mengapa kalian melakukannya padaku… Tak kusangka kalian gay,” katanya dengan ekspresi yang campur baur. Penuh birahi dan bingung dengan apa yang terjadi. Adriansyah dan Daniel berdiri tegak menatap Indra. “Apa maksud kamu Ndra?” tanya Adriansyah. “Kalian homo. Kalian dua laki-laki homo. Aku tak mau diperlakukan seperti itu,” “Kamu ada-ada saja. Bukankah tadi kami melakukannya atas permintaanmu,” “Aku tadi khilaf. Tak sadar,” “Jangan berdalih. Kamu tidak dalam keadaan mabuk Ndra. Kamu menikmatinya, akui sajalah,” kata Daniel tegas. “Aku… aku.. tak mengertii.. aku tidak mau jadi homo seperti kalian,” Indra bingung. Adriansyah dan Daniel mendekat. Memegang tubuh Indra erat. “Tak usah bingung Ndra. Mari kami jelaskan. Duduklah dulu,” ajak Adriansyah. Indra mengikuti meskipun bingung. “Kamu salah persepsi tentang kami berdua,” kata Daniel. “Salah persepsi bagaimana? Kalian jelas-jelas gay. masak kalian mau ngemut kontol dan jilat pantatku?” “Kamu kurang memahami sex Ndra. Makanya banyak-banyak baca buku tentang sex. Bukan berarti karena kami ngemut kontol kamu terus kami jadi homo,” kata Adriansyah. “Jadi apa namanya?” “Entahlah. Yang pasti kami hanya bermaksud mengajarkan kamu melakukan sex dan dapat berejakulasi di dalam tanpa perlu takut hamil” “Maksud kalian anal sex?” “Begitulah kira-kira,” “Dengan sejenis?” “Ya,” “Itu gay sex namanya,” “Terserah kamu menyebutnya apa. Yang pasti meskipun kita melakukannya namun tidak mengurangi rasa suka kita pada cewek Ndra,” kata Daniel. “Maksud kalian?” “Kami sudah sering melakukannya berdua. Tak ada komitmen. Tak ada cinta. Hanya memuaskan birahi saja. Dan yang terpenting tidak mengganggu hubungan cinta dengan cewek kami masing-masing,” “Kalian… sering melakukannya?” “Ya… Mengapa? Ada yang aneh?” “Kalian gila,” “Terserah apa katamu,” Adriansyah tak berkata-kata lagi. Ia memandang ke arah Indra dengan tatapan tajam. Indra grogi akan pandangan itu. Ia membuang muka. Perlahan-lahan Adriansyah melepaskan pakaiannya diikuti oleh Daniel. Kedua cowok itu kini telanjang bulat dihadapan Indra, hanya sepatu dan kaos kaki saja yang tidak mereka lepas. Keduanya kemudian merapat. Lalu berpelukan erat dilanjutkan dengan saling melumat bibir. Penuh nafsu dan buas. Jemari mereka saling meraba ke semua lekuk-lekuk tubuh mereka yang berotot kencang. Indra merinding melihatnya. Kembali ia membuang muka. “Gila. Aku mau keluar dari sini,” kata Indra. Ia melangkah ke arah pintu. Diputarnya gerendel pintu namun terkunci. Ia teringat bahwa kunci itu disimpan di kantong celana Daniel. Indra mengarahkan pandangannya ke arah Adriansyah dan Daniel kembali. Mencari-cari celana Daniel yang tadi terserak setelah dilepaskan oleh cowok Ambon itu. Mau tak mau ia kembali menatap Adriansyah dan Daniel yang masih terus beraksi. Malah semakin vulgar. Mulut Adriansyah sibuk melumat puting susu Daniel yang kecoklatan, membuat cowok Ambon itu menggelinjang-gelinjang. Adriansyah semakin liar, ia melanjutkan lumatan bibirnya ke ketiak Daniel yang penuh bulu. Tanpa risih dan jijik mulut Adriansyah menyelomoti ketiak teman satu clubnya itu. Indra terhenyak. Tak pernah dibayangkannya hal seperti ini. Menonton pergumulan cabul dua laki-laki jantan. Melihat pemandangan baru ini membuatnya lupa mencari kunci pintu. Pandangannya tak lepas melihat apa yang dikerjakan oleh dua mahasiswa teknik seniornya itu. Adriansyah kemudian menungging seperti anjing, tangan dan kakinya digunakan sebagai tumpuan. Daniel berjalan ke belakang Adriansyah. Juga menungging, wajahnya tepat di buah pantat Adriansyah yang putih dan montok. Lidah Daniel kemudian sibuk menjilat-jilat pantat dan kontol Adriansyah. Kontol Adriansyah yang gemuk dan panjang ditarik Daniel ke belakang untuk memudahkannya mengulum dengan penuh kenikmatan. Seperti anak kecil mengulum permen. Keduanya benar-benar penuh gairah birahi. Mereka tak memperdulikan lagi keberadaan Indra. Warna kulit mereka yang hitam dan putih terlihat sangat kontras. Puas dengan kulum mengulum kontol dalam posisi nungging keduanya melanjutkan ke posisi selanjutnya. Adriansyah dan Daniel berbaring di lantai. Kontol Adriansyah masih di mulut Daniel. Adriansyah kemudian memutar tubuhnya. Mulutnya mencari-cari kontol Daniel. Setelah ketemu kontol yang gemuk dan panjang berwarna gelap itu langsung dikulumnya. Indra bingung. Melihat percumbuan cabul dua mahasiswa itu membuatnya terangsang. Kontolnya mengeras. Akal sehatnya hilang sudah. Tangannya mengambil botol baby oil, lalu melumuri isinya ke telapak tangannya. Duduk mengangkang di lantai dikocoknya kontolnya sendiri sambil mempelototi percumbuan Adriansyah dan Daniel. Adriansyah mendekati Indra. Ia tersenyum mesum melihat Indra yang terangsang dengan percumbuan mereka. Mulutnya langsung mencaplok kontol Indra. Daniel mengikuti. Dua laki-laki itu lalu asik mengulum kontol Indra dengan buas. Mereka saling berebutan seperti anjing berebut tulang. Sesekali celah pantat Indra yang ditumbuhi bulu halus pun mereka jilat. Indra seperti kerasukan setan. Ia mengerang-erang. Pahanya dikangkangkannya semakin lebar. Memberi kesempatan seluas-luasnya bagi Adriansyah dan Daniel mengerjai perkakas cintanya. Tangannya mencari-cari kontol dua seniornya itu. Setelah dapat tangannya langsung menggenggam kontol Adriansyah dan Daniel. Kemudian mengocoknya dengan penuh semangat birahi yang liar. Capek berebut kontol Indra dengan rekannya, Daniel bangkit. Tinggallah Adriansyah sendiri mengulumi kontol Indra. Daniel mendekatkan selangkangannya ke wajah Indra. Cowok ini langsung paham keinginan Daniel. Tanpa fikir dua kali kontol Daniel yang hitam, gemuk dan panjang itu langsung ditelannya. Mulutnya menyelomot dengan buas. Sambil menyelomot tangannya terus mengocok-ngocok kontol cowok Ambon itu dan kontol Adriansyah. Pantat Daniel bergerak maju mundur. Kepalanya menengadah. Mulutnya mengeluarkan erangan-erangan. Ia begitu keenakan. Sedotan mulut Indra di kontolnya dirasakannya seperti remasan memek. Layaknya seperti ngentot saja dirasakannya saat itu. Meski belum pernah melakukan pergumulan sex dengan sejenis tapi Indra cepat dapat beradaptasi. Ia langsung tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin karena cowok ini sudah berpengalaman bercinta sebelumnya. Pada dasarnya ia hanya melakukan apa yang biasanya diperbuatnya saat bercinta. Memfungsikan seluruh organ tubuh untuk membangkitkan birahi pasangan bercintanya. Mungkin inilah yang dinamakan insting sexual. Di selangkangan Indra Adriansyah terus mengulum dengan giat. Tak lupa jarinya mengaduk-aduk lobang pantat Indra. Tentu saja hal ini membuat Indra semakin menggila. Tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pantatnya meresapi nikmatnya sodokan jari Adriansyah yang keluar masuk lobang pantatnya. Padahal sudah tiga jari Adriansyah yang keluar masuk lobang pantatnya itu. Namun Indra tak merasakan sakit. Hanya sensasi nikmat yang dirasakannya. “Ohhh… oohhhh….. a’.. a’… enak bangethhh…,” kata Indra meracau. “Kamu suka Ndra? Suka?” tanya Adriansyah. “Sukah a’… suka bangethh.. sshhh…,” “Mau aa’ kasih yang lebih enak Ndra?” “Apa itu a’? ahhhh… sshhhh…,” “Aa’ masukin ya pantat Indra?” “Masukin apahh a’? aghhhh..,” “Kontol aa’,” “Jangan a’ sakithhh…,” “Gak sakit Ndrah, coabin deh..,” “Jangan a’,” Tapi Adriansyah gak perdulia. Ia langsung bersimpuh diantara selangkangan Indra. Paha Indra diletakkannya diatas pahanya. Tangannya mencengkeram paha Indra kuat-kuat, menahan cowok itu agar tak bergerak. Indra ketakutan melihat kontol Adriansyah yang segede terong menyapu-nyapu bibir celah pantatnya. Wajahnya dipalingkannya kebawah, mencoba melihat apa yang akan dilakukan Adrianysah. Namun Daniel yang sedang keenakan gak rela kuluman Indra pada kontolnya terhenti. Ditariknya wajah Indra agar tetap mengulum kontolnya. Jadilah Indra mengulum kontol Daniel sambil melirik dengan mata mendelik melihat apa yang akan dikerjakan Adriansyah. Kepala kontol Adriansyah menekan ke celah pantat Indra yang basah oleh keringat dan lumuran baby oil dari jari Adriansyah. Dinding bibir celah pantat Indra melesak masuk ke dalam saat kepala kontol Adriansyah mendorong masuk. “A’ ahhh…….. ahhhh…,” Indra mengerang. Tak terlalu perih memang dirasakannya karena lobang pantatnya sudah licin dan tadi juga sudah disodok jari oleh Adriansyah. Namun anal sex adalah hal baru buatnya. Desakan kepala kontol Adriansyah ke lobang pantatnya cukup membuatnya kurang nyaman. Lobang pantatnya terasa penuh. “Pelan-pelan a’,” katanya lirih. Adriansyah mencium hidung mancung Indra. “Tahan dikit ya Ndra. Entar juga enak kok,” katanya tersenyum. Kontolnya terus menekan masuk. Makin lama makin dalam. Sambil terus menggoyang pantat Daniel memperhatikan apa yang dikerjakan Adriansyah. Tangannya mengelus-elus rambut Indra yang hitam dan ikal. “A’ ohhh………… gede banget a’… ahhh………,” Indra mengerang. Adriansyah tersenyum bangga. Kontolnya emang gede. Pernah liat terong ungu? Nah segitulah ukuran kontol Adriansyah. Coba aja tes terong ungu masukin pantat, gimana rasanya. Kontol Adriansyah masuk sudah semuanya. Memenuhi rongga lobang pantat Indra. Jembut Adriansyah yang lebat dan kasar menggesek-gesek pantat Indra. “Gimana Ndra?” tanya Adriansyah tersenyum mesum. “Gila a’, kok bisa masuk ya?” sahut Indra tak percaya. Dilepaskannya kontol Daniel dari mulutnya. Kepalanya menoleh ke bawah memandang tak percaya pada lobang pantatnya yang sempit namun bisa menelan kontol Adriansyah yang gede seluruhnya. “Itulah kuasa Yang Maha Kuasa,” jawab Adriansyah sok bijak sambil nyengir. Ngawur, sedang begini kok ingat Tuhan. Indra hanya menggeleng-geleng tak percaya. “Gimana rasanya Ndra?” “Penuh a’,” jawab Indra. “Aa’ goyang ya,” kata Adriansyah. “Cobain a’,” jawab Indra. Adriansyah menarik kontolnya keluar. Tak seluruhnya. Indra mengerang. Gesekan kontol itu terasa aneh banginya. Sedikit perih namun kok enak. Adriansyah mendorong masuk lagi. Lalu tarik lagi, masuk lagi. “Ahhhhhh…. a’, gila enak a’,” kata Indra. “Enak kan, nikmatin yah,” Adriansyah bergerak terus. “A’ aohhh… a’ kali cewek ngerasain enak begini ya waktu memeknya dientot kontol,” kata Indra. “Mungkin Ndra.. ahh.. ahhh…,” “Pantes mereka doyan a’, ahhh… ahhh… ahhh….,” “Ndra kontol gue emut lagi dong,” kata Daniel. Rupanya dia keqi juga dicuekin. Indra segera menyeruput kontol Daniel lagi. Kulumannya makin semangat. Soalnya dia keenakan sih dientot Adriansyah. Jadis emangatnya makin menggelora. “Ouhh… slurrppp…slurrpp… ohhmmm….mmhh,…. aohhh… slururppp..,” mulut Indra rame dengan lenguhan, erangan dan suara sedotan. Adriansyah terus bergerak. Makin lama makin cepat, menimbulkan suara kecipak dan tepukan yang keras. Mulutnya mencari dada bidang Indra. Kemudian sibuk melumat dengan buas. Ketiga laki-laki itu begitu binal. Tubuh mereka basah bersimbah keringat. Mengkilap membuat otot-otot mereka semakin terlihat tegas lekuknya. Mereka benar-benar sudah hanyut oleh birahi yang liar. Seandainya saja cewek-cewek mereka melihat apa yang mereka kerjakan saat ini pasti akan syok. Tak menyangka kekasih mereka yang jantan ternyata begitu binal bermain cinta dengan sesama jenisnya. Mereka bercinta seperti kesetanan. Buas. Aroma keringat mereka yang jantan (bukan bau apek lho) memenuhi ruang ganti yang sempit itu. Hal ini malah membuat birahi mereka semakin menggila. Pantat Adriansyah bergerak sangat cepat. Indra mengerang antara enak dan sakit. Dalam hati Indra tersenyum, tak menyangka kalau biasanya selama ini ia yang bergerak cepat mengentot kini malah ia yang dientot seperti ini. Dan ternyata ia sangat menikmatinya. Lima belas menit berlalu. “Ndri, gantian dong,” kata Daniel. Rupanya diapun kepengen. “Ahhh… ah… ahhh.. dikithh.. lagihh.. Nielhh.. ahhh… ahhh.. ahh..,” jawab Adriansyah. Gerakannya semakin cepat dan menghentak-hentak kuat. Ini tanda-tanda orgasme akan segera datang. “Dah mau keluar a’,” tanya Indra. “He eh.. ahhh… ahhh… ahhh… ahhh..,” Adriansyah mencium dan mengulum tetek Indra dengan kuat. Lalu pantatnya menghetak keras untuk kemudian menekan kuat. Kontolnya berdenyut-denyut. Tak lama dari lobang kencingnya menyembur cairan kental dan hangat. Menyemmprot deras membasahi rongga pantat Indra. “Erghhhhh…,” Indra mendengus. Semprotan itu menimbulkan sensasi yang aneh baginya. Nikmat. Tubuh Adriansyah roboh menindih Indra. Ototnya menegang. Daniel melepaskan kontolnya dari multu Indra. Tubuh Adriansyah digesernya kesamping.

Nikmatnya Lubang – Lubang Tetanggaku

Posted on July 9, 2011 |
Para pembaca setia sumbercerita.com, berikut adalah peristiwa yang akan diceritakan oleh salah satu anggota kami. Ketika dia menceritakan pengalamannya, kami mengusulkan agar ceritanya dikirim ke sumbercerita.com. Agar dapat dinikmati oleh khalayak lain. Berikut peristiwa anggota kami yang benar-benar terjadi.
*****
Perkenalkan, namaku Andi. Aku kuliah di sebuah PTN terkenal di kotaku. Aku mempunyai tetangga perempuan yang masih bersekolah di SMU, namanya Vina. Vina adalah gadis keturunan Chinese. Ia mempunyai wajah yang manis, dan mata yang sipit terlihat indah dibalik kacamatnya. Kulitnya putih bersih, dengan bulu-bulu halus menghias lengannya.
Sebenarnya aku sudah lama tertarik sama dia, karena tubuhnya yang menggairahkan sekali. Dia suka mengenakan kaos ketat dengan warna cerah. ketika kami bertemu, aku suka curi pandang lengan atasnya yang putih bersih dan ketiaknya yang gemuk dengan beberapa rambut tipis di tengahnya. Vina bertubuh agak pendek, sekitar 158 cm dan menggairahkan. Yang paling menonjol Vina tubuhnya yaitu payudaranya yang cukup montok ukurannya sekitar 34B dan pantatnya yang padat berisi. Ketika kami mengobrol dijalan aku sering memperhatikan orang-orang yang melewati kami, mereka selalu melirik ke arah payudara Vina dan pantatnya yang semontok pantat Nafa Urbach, berharap bisa meremas-remasnya.
Setiap hari Vina pulang sekitar jam 5 sore, karena ia kut les setelah pulang sekolah. Aku sedang dirumah, Vina main kerumahku setelah ia pulang dari les. Dan setiap kali Vina mengobrol selalu kugoda dan kuajak kekamarku. Namun sutau hari, karena aku dengan alasan ingin memeperlihatkan sesuatu, Vina mau juga. Dan kebetulan rumahku sedang tidak ada orang, karena mereka sedang keluar kota. Dikamarku, kutunjukkan novel terbaru “Harry Potter & The Chamber’s of Secret”, karangan J. K. Rowling. Vina selalu menanti-nanti terbitnya Novel tersebut.
Kira-kira waktu itu sekitar jam setengah delapan malam. Ketika aku bermain game di computer, Vina sedang asyik membaca buku di lantai dan membelakangiku. Ketika aku menengok kebelakang, terlihatlah pantatnya yang terbalut celana panjang. Menantang kejantananku untuk disarangkan ke dalam bongkahan pantatnya yang montok itu. Gadis itu tidak sadar kalau pantatnya sedang ku perhatikan. Rupanya memang tidak sadar kalau sedang kuperhatikan.
Baru beberapa menit kemudian Vina membalikkan badannya, aku segera mengalihkan pandanganku ke computer. Vina lalu melihat sebentar game yang sedang kumainkan, lalu ia kembali membaca lagi di lantai tepat disamping bawah kursiku. Ketika kulihat ia kembali, sungguh pemandangan yang sangat membuat keringat dinginku keluar. Kulihat payudaranya yang terbungkus bra di balik kaosnya yang rada longgar karena ukurannya yang cukup besar. Terlihat jelas sekali dari atas, bagian atas kulit payuara Vina yang putih sekali, lebih putih dari kulit lengan dan wajahnya yang sudah sangat putih. Suasana memang sepi disekitar rumahku, namun bagi penduduk sekitar cukup aman untuk dihuni.
Ketika nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Kurangkul tubuh Vina, dan kubekap mulutnya.
“Eegghh, mmpphh.. mmphh”, Vina berusaha berteriak.
Kulumat bibirnya agar ia tidak bersuara. Sambil tanganku mengambil tali pramuka di dekatku. Lalu kuikat kedua lengannya ke belakang. Beberapa menit kemudian, rontaan Vina mulai melemah.
“Ndi. apa yang kamu lakukan”.
Vina berteriak begitu mulutnya berhasil lepas dari mulutku.
Dengan cepat, kulumat lagi mulut Vina. Kuhisap-hisap mulut dan lidahnya. kujelajahi rongga mulutnya dengan lidahku. Air liur Vina yang kuhisap, meluber keluar membasahi pipi dan sekitar bibirnya yang mungil merah merekah. Kuteguk nikmat air liur cewek Chinese itu. Belum sempat ia bersuara ketika kulepas bibirku di bibirnya, ku masukkan batang kontolku ke dalam mulutnya. Sambil kujambak rambutnya dan kumaju-mundurkan kepalanya.
“Ouuhh, mm.”, aku melenguh keenakan, di penisku.
Aku merasakan penisku basah, dan dingin di dalam mulut Vina. lalu kubopong gadis itu ke atas tempat tidurku. Setelah mengunci pintu. Aku kembali ke tempat tidurku yang cukup besar. Kutelepon Irfan, temanku untuk membantu menyetubuhi si Vina. Tak lama kemudian, temanku Irfan. Mereka senang sekali kuajak.
Setelah kuikat kedua lengan vina ke masing-masing sudut ranjang, sedangkan kedua kakinya dipegangi kedua Irfan. Kulepaskan satu persatu pakaian Vina, hingga akhirnya Vina hanya memakai Celana Dalam putih dan BH kremnya. Payudaranya menyembul di bagian atas BH-nya. Kulit payudara Vina putih sekali, kontras dengan warna BH-nya. Melihat keadaan tubuh gadis itu, nafsuku menjadi naik. Kontolku menegang, tapi aku masih bisa menahan diri. Tapi tanganku mulai meraba-raba seluruh bagian tubuh gadis itu. Pahanya yang putih mulus sekali, terasa lembut sat ku elus-elus, dan empuk saat kuremas-remas sambil kujilati hingga pahanya basah oleh air liurku.
Setelah melakukan semua itu, Aku melepaskan semua pakaianku hingga telanjang bulat dengan kondisi kontolku yang udah tegang. Tanpa membuang waktu kudekati Vina yang masih memohon agar dilepaskan. Vina berusaha memberontak Tapi dengan cepat kedekap tubuh gadis itu, dekapanku cukup kuat, Vina hanya bisa terisak-isak menangis. Gadis itu seakan tak berdaya ketika Aku mulai meremas-remas payudaranya yang lumayan besar dan kenyal itu dengan masih dibungkus BH-nya. Sambil menikmati musik house, Lama kelamaan aku menjadi tambah bernafsu, dengan kasar kutarik BH gadis itu dan kulemparkan. Di depan mataku terpampang payudara gadis itu yang putih dengan puting mungil merah muda yang indah sekali Aku meremas-remas payudara gadis Chinese itu dengan sekuat tenaga.
“Aakkhh, saakkii..iitt. Ndi, sakkii. it, ampuu..unn. Ndii”, Vina meraung-raung kesakitan.
Dadanya menempel erat kedadaku dan akupun merasa ada daging kenyal yang hangat. Aku terus melumat bibirnya, sementara tangan kananku dengan leluasa mengelus-ngelus pahanya yang mulus dan pantatnya yang kenyal. Tangan kiriku meremas-remas payudara kirinya. Kudengar lenguhan-lenguhan kenikmatan dari Vina. Aku lepaskan mulutku dan kuciumi lehernya hingga ke payudaranya, kusedot susunya yang kiri sementara tangan kananku meremas-remas yang kanan. Kutindihi tubuhnya sambil menyedot-nyedot susunya secara bergantian. Saya jilati kedua payudaranya sambil saya gigit dengan keras putingnya yang merah itu.
“Uufh, sakii..iit, oufhh, ohh, oohh saki..iit, ohh”.
Vina merintih sambil menangis sesenggukan. Sementara itu aku terusin permainan lidah aku ke arah perutnya yang rata itu, aku berhenti di bagian pusar dan konsentrasi di bagian itu sambil ngeremes bokongnya yang padat, kedua tanganku selipin ke bokongnya dan pelan-pelan aku lucuti celana dalamnya ke bawah.
Tampaklah sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya. CD nya dan kurasakan rambut hitam yang masih jarang mengelilingi vaginanya. kuraih klitorisnya dan ku gosok-gosok dengan jari tengahku.
“Oohh, jangaann, sudaahh oufhh, jaa, ngaa, an, oohh”.
Dia merintih merasakan nikmat yang dalam karena klitorisnya kugosok sementara lidahku tetap bermain menyedot-nyedot payudaranya yang besar bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arahku. Kupegangi bagian bawah payudara Vina, mulutku menciumi dan mengisap-isap kedua puting susu Vina secara bergantian. Buah dada Vina yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutku. Buah dada Vina yang gemuk itu hampir masuk semuanya ke dalam mulutku dan mulai kusedot-sedot dengan lahap.
“Aakkhh, ouughh, sakkii..iitt,”. tiba-tiba Vina berteriak keras sekali karena sebagian besar payudaranya yang masuk kedalam mulutku, aku kunyah-kunyah susu kanannya seperti mengunyah daging.
Aku merasakan ada kulit payudara Vina yang sobek, sehingga darah susunya keluar. Dan kutelan sebagian darah susu Vina yang keluar. Lidahku kumainkan pada puting susu Vina yang bereaksi menjadi keras sekali. Terasa sesak napas Vina menerima perlakuanku pada kedua buah dadanya. Badan Vina terasa makin lemas dan dari mulutnya terus mengeluarkan erangan,
“Ssshh, sshh, aahh, aahh, sshh, sshh, jangaann, suudaahh.. aku mohoonn”.
Vina terus mengerang. mulutku terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dada Vina secara bergantian selama kurang lebih lima belas menit. Tubuh Vina benar-benar telah lemas menerima perlakuanku ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua buah dada dan putingnya telah benar-benar mengeras. Aku mulai maraba bulu-bulu halus yang tumbuh lebat di vagina Vina. Ia mulai merintih lagi menahan rangsangan pada vaginanya.
Irfan tidak tahan dengan pemandangan indah itu. Ia lalu memegang kepala Vina, kemudian melumat bibirnya yang tipis dengan bulu-bulu halus di antara bibir dan hidungnya. Mulut irfan mulai menjilati leher Vina, lalu turun ke dadanya. Terasa oleh Vina mulut Irfan menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Vina menjerit ketika Irfan mengigit puting susunya sambil menariknya dengan giginya.
“Diem, Jangan berisik”, Irfan menampar pipi kiri Vina dengan keras, hingga berkunang-kunang.
Vina hanya bisa menangis sesenggukan.
“Gue bilang diem. dasar”, sembari berkata itu si Gondrong menampar buah dada Vina, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Vina.
Lalu Irfan melepas celana jeansnya dan kemudian Cdnya. Irfan menduduki kedua susu Vina. Lalu ia mencoba membuka mulut Vina, dan mengarahkan kontolnya dan menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir Vina. Lalu ia menampar-nampar kedua pipi Vina sampai memerah. Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Vina, kepala penis Irfan telah terjepit di antara kedua bibir mungil Vina, Akhirnya Mulut Vina terbuka, dengan memaksa, Irfan menarik kepalaVina akhirnya penisnya masuk juga kedalam mulut Vina. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Vina yang kecil, itupun sudah terasa penuh benar.
Vina hampir sesak nafas dibuatnya. Vina dipaksa menjilat dan menyedoti penis Irfan, jika menolak Irfan akan terus menampar pipi Vina. Karena tidak tahan Vina mulai menjilati penis Irfan.
Dia langsung mendesah pelan”Aakkhh, aakkhh.”, sambil ikut membantu Vina memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya.
“Aakk, akk, nikmat sayyaangg”.
Kelihatan Vina bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya.
Tak lama kemudian penis Irfan menyemburkan spermanya banyak sekali di dalam mulut Vina.
“Ooohh, oouuh”, Irfan melenguh panjang, merasakan nikmat berejakulasi di mulut gadis Chinese yang cantik dan putih ini.
Vina terpaksa menenggak seluruh sperma Irfan, sedangkan sisanya meluber keluar membasahi bibir dan dagunya. Vina semakin mendesah-desah karena kemaluannya kujilati dengan buasnya. Apalagi tanganku saat itu tidak lepas meremas-remas payudara gadis itu.
Kubuka lebar pahanya kudekatkan ujung kontolku ke arah selangkangan gadis itu yang masih menggunakan celana dalam. Kugesek-gesekkan kontolku di sekitar liang memek gadis itu. Vina merasakan adanya sesuatu yang meraba-raba kemaluannya. Tiba-tiba Vina teriak keras sekali. Tapi dengan cepat kedekap tubuh gadis itu. Batang kemaluanku yang besar dan panjang ini aku coba kumasukkan dengan paksa ke liang kemaluan Vina yang masih sangat sempit, Ketika penisku merobek keperawanannya, ia berteriak kesakitan sambil mengangis, dan aku merasakan penisku telah dibasahi oleh darah segar keperawanannya, tapi aku tidak ambil peduli. Dari wajah Vina terlihat dia menahan sakit yang amat sangat.
Sementara itu si Irfan dengan ganasnya beradu lidah dengan Vina sambil tangannya turut bekerja meremas dan memilin-milin puting susunya yang masih kecil. Aku masih asyik memaju-mundurkan pantatku dengan cepat. Aku mengebor memeknya dengan kecepatan tinggi sambil kedua tanganku meremas pahanya yang putih mulus dan pantatnya yang sekal, Tangisan Vina semakin keras meraung-raung. Akhirnya tubuh Vina mengejang sampai bergetar. Air mani Vina mengalir melalui rongga vaginanya mengguyur penisku yang tertanam di dalam vaginanya. Sedangkan aku masih menjilati payudaranya, dia mengalami orgasme hebat beberapa saat sampai akhirnya melemas tangisannya samar-samar menghilang.
Lalu kubalik tubuhku, sehingga posisi tubuh Vina sekarang berada diatasku. Dengan posisi berbaring, kupeluk punggung Vina sambil menaik-turunkan pantatnya sehingga aku merasa semakin nikmat karena pijitan vaginanya. Aku semakin mempercepat gerakan sehingga membuat adegan yang kami lakukan semakin panas karena Vina terus meronta sambil mendesah. Aku terus memompa liang peranakannya dari bawah, sambil kedua tanganku mencengkram dan meremas dengan kasar kedua buah bongkahan pantat Vina yang padat sekali. Tangan Irfan masih memainkan puting susu Vina sambil sesekali menarik-narik payudaranya yang kenyal itu.
Setengah jam terus berlalu dan aku mulai merasakan seolah-olah akan ada ledakan dalam diriku dan Vina. Aku mengetahui bahwa dia akan klimaks lagi karena Vina semakin kuat mendesah, kupercepat menggenjot tubuhnya. Aku semakin tidak tahan dan kusemprotkan cairan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya dan di saat yang bersamaan pula, Vina berteriak dengan disertai getaran hebat sambil seluruh tubuhnya mengejang. Penisku terasa seperti sedang di”pipis”in olehnya karena ada cairan yang mulai membasahi penisku. Vina mengalami orgasmenya yang kedua. Setelah 46 menit kami bersama-sama melepaskan nafsu
Lalu Irfan mendekati tubuh Vina, ia menarik pinggul Vina.
“Ampun. sudaahh, jangan terusin, biarkan saya pulang” rengek Vina sambil minta belas kasihan.
“Heh.. diam kamu” hardik Irfan.
“Ayo nungging, aku mau liat memek dan pantat seksi kamu dari belakang”.
Irfan mengangkat pinggul Vina sehingga posisi Vina sekarang nungging.
“Hahaha. begitu manis. Waw.. bagus sekali pantat kamu”, sambil Irfan mendekatkan mulutnya ke memek Vina.
Dengan jari Irfan menusuk memek Vina yang menggelinjang menahan sesuatu.
Dan Irfan dengan buasnya, menjilatin anus Vina yang berwarna kemerah-merahan. sambil sesekali ujung lidah Irfan dimasukin ke lubang anus cewek chinese itu dan menjilatinya. Tanpa disadari oleh Vina. apa yang akan dilakukan Irfan selanjutnya.
Sekonyong-konyong Vina menjerit”Aauu. aauu. aakhh”.
Rupanya penis Irfan telah menembus lubang memek Vina yang sudah basah dipenuhi lendir kenikmatan dan spermaku. Dengan buasnya Irfan menggenjot terus memek Vina dari belakang (doggy style) Vina hanya bisa merasakan sakit di liang kemaluannya karena di sodok2 dengan penis Irfan yang besar dan panjang. Sambil kepala dan payudaranya terayun-ayun karena sodokan penis Irfan, Vina memohon ampun.
“Ampun, sakit sekali, aauu. sudah pak, sakit.. sakiitt”.
Vina terus memohon sambil berlinang air mata, mendapat perlakukan kasar dari Irfan. Makin lama Irfan makin keras mendorong-dorong memek Vina, dengan desisan panjang.
“Sstt. sstt. aahh”.
Irfan menahan nikmat luar biasa.
“Nich. aku mau keluar. ayo cepet goyangin pantat kamu.. plak.. plak..” sesekali Irfan menampar pantat indah milik Vina, sehingga pantat Vina mulai memerah.
“Aahh. sakiitt, huuhh. aach”.
Sambil mendorongkan penisnya, sekali hentak keluar sperma Irfan memenuhi liang vagina Vina.
“Aachh.. ccroott, crrott, gue, semprot. lobang, loe.. bangsatt”.
Irfan mengumpat. lalu Irfan menarik penisnya. darah bercampur air mani Irfan dan Vina keluar mengalir membasahi paha Vina yang masih tegak. Lalu Irfan berbaring di samping tubuh Vina yang setengah tidak sadar.
setelah istirahat sejenak nafsu kami mulai naik kembali.
“Fan coba kita main berdua”
Irfan mengambil posisi tidur sedangkan Vina didudukan diatas tubuhnya, sambil penis Irfan diarahkan ke lubang Vagina Vina. Vina dengan mimik muka memohon ampun, Irfan makin tambah beringas. Akhirnya sekali dorongan tembuslah memek Vina yang selama ini dia rawat, sekarang di koyak-koyak oleh Irfan kembali. 2 orang yang sangat kehausan sex.
“Aduuhh.. sakkiitt. sudahh. kumohoonn” Vina menjerit kesakitan.
Namun Irfan tidak mempedulikan rintihan dari mulut Vina, dia makin kasar menyodok-nyodokan penisnya sementara itu aku telah berdiri di atas mereka berdua, dan mendorongkan tubuh Vina untuk amBLi posisi membungkuk, dan dengan kasar jariku mulai meraba-raba pantat Vina yang montok putih mulus sambil mempermainkan jari tengahku untuk mengobel lubang anus Vina.
“Waw.. Rupanya anusnya masih perawan nih. lobangnya kecil banget” seruku sambil mengarahkan batang penisku ke anus Vina.
Setelah mengolesi handbody pada batang penisku agar tidak lecet, aku berusaha memasukan penisku ke lubang anus Vina.
“Vin pantat loe gue sodomi ya? pantat loe montok banget sih. Pasti jepitannya kenceng nih”, Aku berteriak kepadanya sambil meremas pantatnya yang putih sekali.
“Jangan. jangan. ampun. jangan disitu. Ndii. sakiitt. periihh” jerit dan ratapan Vina dengan nada memelas.
Tapi aku tidak mempedulikan rintihan Vina, makin keras aku memasukan batang kemaluan aku. Untuk beberapa saat memang sulit bagi penisku untuk berhasil masuk, karena memang lubangnya sangat sempit.
Namun aku penasaran untuk segera melesakkan batang kemaluanku ke dalam duburnya. Dan akhirnya setelah berusaha membuka pantat Vina, tembuslah lubang anus Vina disodok batang kemaluanku. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya. Setelah itu pantat Vinapun kusodok-sodok dengan keras, kedua tanganku meraih payudara Vina serta meremas-remasnya. Setengah jam lamnya aku menyodomi Vina, waktu yang lama bagi Vina yang semakin tersiksa itu. Lubang dubur Vina terus menerus mengeluarkan darah melalui sela-sela penisku yang tertanam dipantatnya.
“Eegghh, aakkhh, oohh”, dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok-sodok dari atas dan bawah, Vina merintih-rintih.
Sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tanganku. Sedangkan Irfan dengan asyiknya menyodok-nyodok memek Vina dari bawah. Lengkaplah sudah dua lobang yang berdekatan telah di tembus oleh dua batang penis aku dan Irfan yang haus sex. Vina hanya bisa meringis menahan sakit yang luar biasa karena selama ini ia tidak pernah menahan rasa sakit seperti itu.
“Ndi, ayo kita sudahi permainan ini bareng, loe sodok dari atas, gue sodok dari bawah dan kita koyak memek dan dubur cewek ini, dan kita penuhi dengan pejuh kita”, Irfan menyeru.
Beberapa menit kemudian kami berdua mengerang menahan nikmat yang luar bisa, dan hampir bersamaan kami memuncratkan sperma berbarengan.
“Aachh., keluuarr.. hhmm.. sstt. nikmat sekali”
“Ooohh.” Vina mengerang merasakan air mani kami membanjiri liang dubur dan vaginanya.
Setelah berhenti sejenak kami akhirnya terkulai, begitu juga Vina yang terhimpit oleh kedua pria yang telah menggaulinya hanya bisa tergolek lemas sambil menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang malang.
Kami sempat mengabadikan persetubuhan kami melalui handycam milik Irfan. dan kami berjanji tidak akan menyebarkannya ke internet, asalkan Vina tutup mulut dan bersedia kami setubuhi. Sampai sekarang aku dan irfan masih sering menyetubuhi tubuh Vina. Kami salurkan hasrat sex kami yang besar ini dengan mengoral mulut Vina, menyodomi pantatnya, dan mengebor memeknya. Hingga sekarang kedua payudara Vina semakin besar, karena terlalu sering kami remas-remas dan kami sedoti. Ukuran branya sekarang 38B, dan puting susunya merah melebar. Setelah persetubuhan, kami selalu meminumkan pil anti Hamil ke Vina. Sampai sekarang Vina tidak merasakan gejala-gejala kehamilan.

1 komentar: